Minggu, 21 September 2014

Saat Yusuf Membacakan Surat Yusuf

Satu persatu tetamu memenuhi ruangan besar di salah satu hotel di Bali.

Iya...mereka hadir dengan antusias untuk penggalangan dana pembelian tanah untuk sebuah masjid di Denpasar.

Acara pun dimulai. Kekhusyuan mulai terasa. Setelah dibuka dengan kalimat indah dari pembawa acara, maka berlanjut ke pembacaan ayat al-Quran.

Maju ke hadapan seorang anak kecil. Kurus.
Dengan kopiah agak kebesaran.

Saya menoleh, ooh dia tak membawa mushaf al-Quran.
"Ahh paling tasmi' surat pendek di Juz Amma", batin saya bicara.

Mulailah Yusuf (ternyata itu nama nya) membaca ta'awwudz dan basmalah.
Masya Allah...fasih bacaan nya.
Lalu...Yusuf membaca surat Yusuf as.
Saya pun kembali menoleh...ia tak membuka mushaf al-Quran.
Hafalan nya bagus.
Suaranya mendayu sesuai tajwid dan pelafalan huruf.
Terasa berkomunikasi dengan 'hati' kami yang hadir.
Haru.
Syahdu.
Setelah selesai, sepertinya pembawa acara bisa membaca apa yang ada dalam fikiran kami.

"Yang tadi tasmi' atau memperdengarkan al-Quran adalah ananda Yusuf. Beliau kelas VI SD swasta.
Alhamdulillah sudah hafal al-Quran", jelas pembaca acara.

Subhanalloh para hadirin tak kuasa menahan isak tangis.

Seorang anak kelas VI SD sudah hafal al-Quran.
SD swasta, bukan sekolah Islam Terpadu.
Di Bali lagi...
Bahkan (kami tahu setelah acara) ayahnya bekerja hanya sebagai (maaf) tour guide. Artinya penghasilan nya kurang menentu.

Masya Allah...

Kita sering menangisi orang miskin.
Tapi semestinya kita menangisi diri kita sendiri :
- Jika kita miskin iman
- Jika kita miskin semangat
- Jika kita miskin idealisme

Orang miskin materi bisa berubah, saat ia 'kaya' akan iman dan semangat.
Namun orang yang kaya secara materi bisa berubah keadaan nya, saat ia 'miskin' idealisme...apalagi 'miskin' iman...na'udzu billah

Sahabat Nabi, Abu Dzar ra menceritakan bahwasanya Rasulullah saw pernah bertanya kepadanya:

يَا أَبَا ذَر، أَتَرَى كَثْرَةَ الْمَالِ هُوَ الْغِنَى؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ : أَفَتَرَى قِلَّةِ الْمَالِ هُوَ الْفَقْرُ؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قال : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ

“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang banyaknya harta merupakan kekayaan?”.
Aku (Abu Dzar) berkata : “Iya ya Rasulullah”.

Rasulullah saw berkata : “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta merupakan kemiskinan?”.
Aku (Abu Dzar ) berkata, “Benar wahai Rasulullah”.

Rasulullahpun berkata : “Sesungguhnya kekayaan (yang hakiki) adalah kayanya hati, dan kemisikinan (yang hakiki) adalah miskinnya hati”.

(HR Ibnu Hibbaan dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam shahih At-Targiib wa At-Tarhiib no 827)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar