Saat Cinta Memanggilnya
Nabi Ibrohim cinta pada keluarganya tp ia lebih cinta pada penciptanya, Allah swt.
Jadi Saat Cinta itu Memanggilnya, ketika perintah Allah itu datang, ia bersegera menyambutnya.
Meski ia harus meninggalkan keluarganya di negri tandus tanpa naungan dan telaga,
ia lakukan sepenuh jiwa.
Karena cinta telah menggerakkannya.
Nabi Ibrohim cinta pada anaknya ismail, tp ia lebih cinta pada Robbnya.
Jadi saat perintah itu tiba, ia bersegera, walaupun harus memotong belahan jiwanya.
Begitu pula sang istri tercinta.
Siti Hajar sayang pd keluarganya, pd suaminya, pd anaknya.
Namun ia lebih sayang pd Allah swt, bukankah Allah Sang Maha Penyayang.
Jadi ketika Cinta Memanggilnya, menyeru namanya, saat ia harus ditinggal seorang diri, berpisah dgn sang kekasih hati, ditempat tandus, yg sepi tanpa penghuni, hanya berdua dgn sang buah hati,
tak ada rasa galau dan ragu dihatinya,
sami'na wa atho'na.
Ia hanya bertanya "Allahu amaroka bi hadza?
"Apakah Allah yg menyuruh engkau melakukan hal ini?
Dan begitu jg sang putra tercinta.
Ismail sangat cinta pada Robbnya.
Maka ketika Cinta itu Memanggilnya, ia buktikan dgn sepenuh jiwa, meskipun harus merelakan nyawanya, ia berkata
“wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kau akan mendapatiku termasuk orang-orang yg sabar”
Itulah indahnya kisah cinta nan setia dari tulusnya jiwa...
Bagaimana dg Kita...???
-Ust. Ismeidas-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar