Sabtu, 20 September 2014

Keajaiban

"KEAJAIBAN"
Oleh ust.Salim A. Fillah

Iman itu terkadang menggelisahkan.

Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang
mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban.
Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia
meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan
bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat
Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau
akan kuasaKu?” , dia menjawab sepenuh hati,
“Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi
tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di
hadapannya. Meski Allah bisa saja
menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”,
kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus
bersipayah untuk menangkap lalu mencincang
empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran
bukit-berbukit dengan lembah curam untuk
meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia
bisa memanggilnya. Dan beburung itu
mendatanginya segera.
Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja
yang menguras tenaga.
Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan
ditaburi keajaiban?
Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh
Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap
kegersangan yang membakar. Yang ada hanya
pasir dan cadas yang membara. Tak ada
pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air
untuk menyambung hidup. Tak tampak insan
untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il.
Dia kini mulai menangis begitu keras karena
lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak
air untuk menjawab tangis putera semata
wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari
ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan
seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda.
Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik
tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air
di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan
kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah
ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah,
Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam! Bukan.
Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak
yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa.
Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi.
Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-
jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban
datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-
ikhtiar kita.
Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja
keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita
kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar
dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak
pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita.

Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan
yang tak kita sangka atas kehendakNya yang
Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu
menenangkan hati ini dari arah manapun Dia
kehendaki.
Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa
dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang
lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah.
Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak
sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah
yang pernah memudahkannya. Dia,
‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang
tahu gaya hidupnya di Makkah
mempersaudarakannya dengan seorang lelaki
Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.
Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu
menawarkan membagi rata segala miliknya
yang memang berjumlah dua; rumah, kebun
kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan
bersahaja berkata, “Tidak saudaraku..
Tunjukkan saja jalan ke pasar!”
Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga
‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci
menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah,
terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf
memang datang ke pasar dengan tangan
kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya
dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan
dirham yang beredar di depan matanya dia pikat
dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari
riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi,
transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.
Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang
Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran
minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya
Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya
dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita
Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas
seberat biji kurma. Walimahnya dengan
menyembelih domba. Satu hari, ketika 40.000
dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi,
beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi
yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”
Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang
memasuki surga sambil merangkak.
Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin
justru pada keberaniannya untuk menanggalkan
segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam
pikiran kita, memulai usaha dengan seorang
isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun
kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada
pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi
bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru
terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban
yang memberati langkahnya untuk menggapai
kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu
datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si
tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang
ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti
‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi
penyemangat kita bahwa itu semua mudah.
Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan
itu? Suatu hari dalam perjamuan Raja
Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang
mencibir perjalanan Columbus menemukan
dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat
mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu
ketemu.
Christopher Columbus tersenyum dari kursinya.
Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari
piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya
menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa
di antara kalian yang mampu memberdirikan
telur ini dengan tegak?”
“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu
adalah hal yang tidak mungkin!”
Semua mengangguk mengiyakan.
“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai
sejenak lalu memukulkan salah satu ujung
telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.
“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata
seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan
senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah
bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku
memang hanya melakukan hal-hal yang mudah
dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya
di saat semua orang mengatakan bahwa hal
mudah itu mustahil!”

NAH, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka
keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.
Mulailah. Karena dalam keberanian memulai
itulah terletak kemudahannya. Bukan soal
punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu.
Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja
adalah bentuk kesyukuran yang terindah.

Seperti firmanNya;
..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur.
Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang
pandai bersyukur. (QS Saba’: 13)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar