Selasa, 30 September 2014

Ikhwahfillah,
Kita pahami bahwa Tarbiyah memiliki sifat kepastian yang akan terjadi sepanjang masa, yang sering kita sebut dengan

حتميّة التّر بيّة

(Kepastian dalam Tarbiyah)

 Sulit Tapi Kokoh;
Tidak ada yang menjamin ada kemudahan dalam proses yang kita jalankan. Setiap waktu,fase dan kondisi selalu ada kesulitan yang kita alami dan selalu bertambah-tambah.

Namun, hasilnya sangatlah KOKOH  apabila hidayah dan Celupan Allah telah masuk ke dalam Hati para Pemuda.

Ia akan siap mengabdi Total kepada Allah dan tampil menjadi pemburu syurga yang siangnya seperti penunggang kuda dan malamnya seperti Rahib yang selalu meleleh air matanya karena takut kepada RobbNya

 Panjang Tapi Terjaga Keasliannya:

Dakwah ini memakan waktu setiap Generasi. Jalan panjang bahu membahu pencapaian cita-cita.

Karenanya Tarbiyah yang menjadi basis pembentukan Rijal-rijal Dakwah memiliki kepastian berupa sangat panjang prosesnya. Tak ada yang sanggup prediksi, berapa lama seseorang harus tarbiyah..

Namun, hasil tempaannya mampu terjaga keasliannya.

Pribadi Asholah adalah mereka yang kepribadiannya akan senantiasa terjaga dan tak lekang dimakan zaman.

Laiknya Abu Tholhah RA, salah seorang Sahabat yang Allah berikan Umur panjang sampai era Ustman RA.

Yang di ujung hidupnya tetap ikut dalam peperangan Maritim melawan ROMAWI.

Can You Imagine?
Kepribadiannya kokoh dan Keasliannya tetap terjaga walau sang Murobbi telah tiada.

 Lambat Namun Terjamin Hasilnya.

Seorang Ulama mengatakan, Dakwah adlah lari estafet dan Bukan Sprint.

Untuk itu diperlukan kesabran dan kerja kolektif sampai ke Garis finish.

Walau terlihat lambat namun ada JAMINAN untuk Hasil yang pasti.

Salah satu Jaminan dalam proses Tarbiyah adalah sikap yang Integral, tidak mendua dan Tidak Terbelah.

Salah satu hasil tempaan trbiyah adalah, Kepribadiaan yang Terjamin ketika menghadapi masa sulit.

Ia tidak akan mengalami turbulensi Aqidah, akhlak, ibadah maupun amal sholih lainnya.

Laiknya Abu Bakar yang tetap membenarkan perkataan Nabi Saw terkait Isra wal Mi'raj dikala banyak muslim yang tak percaya.

Laiknya abu Ayuub al-Anshory dan Istrinya yang memiliki integritas akhlak ketika menepis fitnah Haditsul Ifki yang menimpa Aisyah RA.

Demikian,
Hasil-hasil Tarbiyah yang kelak akan menjadi barisan-barisan Setia Allah.

Karenanya,
Hadirkanlah Samudera kesabaran yang tak kering walau perubahan Iklim atau rekayasa Iklim untuk urusan Tarbiyah..


Bila air mata enggan MENYUSUT... Pergilah tuk BERSUJUD...
Bila air mata masih saja BERLINANG
Bersegeralah untuk bersembahyang
Bila sedih dan duka tak kunjung SIRNA ...
Bukalah tanganmu untuk BERDOA. ..
Dan bila kita tak mampu TEGAR... Gerakkan bibir untuk selalu ISTIGHFAR... 
Biarkan ia MENGALIR kala ada rasa GETIR.
Biarkan ia BASAH kala jiwa GUNDAH.
Ketahuilah keberadaan air mata kan menyibak api NERAKA.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1338]).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1363])

Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Sungguh, menangis karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”.

Ka’ab bin al-Ahbar rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya mengalirnya air mataku sehingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas yang besarnya seukuran tubuhku.

Selasa, 23 September 2014

"Rizqi Kita, Soal Rasa" | Salim A Fillah

Aku tahu, rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang..
Aku tahu, ‘amalku takkan dikerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang..
-Hasan Al Bashri-

Pemberian uang yang sama-sama sepuluh juta, bisa jadi sangat berbeda rasa penerimaannya. Kadang ia ditentukan oleh bagaimana cara menghulurkannya.

Jika terada dalam amplop coklat yang rapi lagi wangi, dihulurkan dengan senyum yang harum dan sikap yang santun, betapa berbunga-bunga kita menyambutnya. Apatah lagi ditambah ucapan yang sopan dan lembut, “Maafkan sangat, hanya ini yang dapat kami sampaikan. Mohon diterima, dan semoga penuh manfaat di jalan kebaikan.”

Ah, pada yang begini, jangankan menerima, tak mengambilnya pun tetap nikmat rasanya. Semisal kita katakan, “Maafkan Tuan, moga berkenan memberikannya pada saudara saya yang lebih memerlukan.” Lalu kita tahu, ia sering berjawab, “Wah, jika demikian, kami akan siapkan yang lebih baik dan lebih berlimpah untuk Anda. Tapi mohon tunggu sejenak.”

Betapa berbeda rasa itu, dengan jumlah sepuluh juta yang berbentuk uang logam ratusan rupiah semuanya. Pula, ia dibungkus dengan karung sampah yang busuk baunya. Diberikan dengan cara dilempar ke muka, diiringi caci maki yang tak henti-henti. Betapa sakitnya. Betapa sedihnya. Sepuluh juta itu telah hilang rasa nikmatnya, sejak mula ia diterima.

Inilah di antara hakikat rizqi, bahwa ia bukan soal berapa. Sungguh ia adalah nikmat yang kita rasa. Sebab sesungguhnya, ia telah tertulis di langit, dan diterakan kembali oleh malaikat ketika ruh kita ditiupkan ke dalam janin di kandungan Ibunda. Telah tertulis, dan hendak diambil dari jalan manapun, hanya itulah yang menjadi jatah kita. Tetapi berbeda dalam soal rasa, karena berbeda cara menghulurkannya. Dan tak samanya cara memberikan, sering ditentukan bagaimana adab kita dalam menjemput dan menengadahkan tangan padaNya.

Rizqi memiliki tempat dan waktu bagi turunnya. Ia tak pernah terlambat, hanyasanya hadir di saat yang tepat.

“Janganlah kalian merasa bahwa rizqi kalian datangnya terlambat”, demikian sabda Rasulullah yang dibawakan oleh Imam ‘Abdur Razzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, “Karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba meninggal, hingga telah datang kepadanya rizqi terakhir yang ditetapkan untuknya. Maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, yaitu dengan  yang halal dan meninggalkan yang haram.”

Jika jodoh adalah bagian dari rizqi, boleh jadi berlaku pula kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar, dan tiada salah tanggal. Tetapi rasa kebersamaan, akan ditentukan oleh bagaimana adab dalam mengambilnya. Bagi mereka yang menjaga kesucian, terkaruniakanlah lapis-lapis keberkahan. Bagi mereka yang mencemarinya dengan hal-hal mendekati zina, ada kenikmatan yang kan hilang meski pintu taubat masih dibuka lapang-lapang. Sebab amat berbeda, yang dihulurkan penuh keridhaan, dibanding yang dilemparkan penuh kemurkaan.

Rizqi adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian. Ujian yang menentukan rasa kehidupan. Di lapis-lapis keberkahan dalam setetes rizqi, ada perbincangan soal rasa. Sebab ialah yang paling terindra dalam hayat kita di dunia.

***

Di antara makna rizqi adalah segala yang keluar masuk bagi diri dengan anugrah manfaat sejati. Nikmat adalah rasa yang terindra dari sifat maslahatnya. Kasur yang empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh, dan bukan di ranjang kencana yang teduh. Hidangan yang mahal dapat dipesan, tetapi lezatnya makan adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di wadah daun pisang bersahaja, bukan di piring emas dan gelas berhias permata.

Atau bahkan, ada yang memandang seseorang tampak kaya raya, tapi sebenarnya Allah telah mulai membatasi rizqinya.

Ada yang bergaji 100 juta rupiah setiap bulannya, tapi tentu rizqinya tak sebanyak itu. Sebab ketika hendak meminum yang segar manis dan mengudap yang kue yang legit, segera dikatakan padanya, “Awas Pak, kadar gulanya!” Ketika hendak menikmati hidangan gurih dengan santan mlekoh dan dedagingan yang lembut, cepat-cepat diingatkan akannya, “Awas Pak, kolesterolnya!” Hatta ketika sup terasa hambar dan garam terlihat begitu menggoda, bergegaslah ada yang menegurnya, “Awas Pak, tekanan darahnya!”

Rasa nikmat itu telah dikurangi.

Lagi-lagi, ini soal rasa. Dan uang yang dia himpunkan dari kerja kerasnya, amat banyak angka nol di belakang bilangan utama, disimpan rapi di Bank yang sangat menjaga rahasia, jika dia mati esok pagi, jadi rizqi siapakah kiranya? Apa yang kita dapat dari kerja tangan kita sendiri dan kita genggam erat hari ini, amat mungkin bukan hak kita. Seperti hartawan yang mati meninggalkan simpanan bertimbun. Mungkin itu mengalir ke ahli warisnya, atau bahkan musuhnya. Allah tak kekurangan cara untuk mengantar apa yang telah ditetapkanNya pada siapa yang dikehendakiNya.

Rizqi sama sekali bukan yang tertulis sebagai angka gaji.

Seorang pemilik jejaring rumah makan dari sebuah kota besar Pulau Jawa, demikian cerita shahibul hikayat yang kami percaya, dengan penghasilan yang besarnya mencengangkan, punya kebiasaan yang sungguh lebih membuat terkesima. Sepanjang hidupnya, tak pernah dia bisa berbaring di kasur, apalagi ranjang berpegas. Dia hanya bisa beristirahat jika menggelar tikar di atas lantai dingin, tepat di depan pintu.

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang sanggup dibeli.

Ada lagi kisah tentang seorang pemilik saham terbesar sebuah maskapai penerbangan yang terhitung raksasa di dunia. Armada pesawat yang dijalankan perusahaannya lebih dari 100 jumlahnya. Tetapi dia menderita hyperphobia, yakni rasa takut terhadap ketinggian. Seumur hidupnya, yang bersangkutan tak pernah berani naik pesawat.

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dikuasai.

Sebaliknya pula, ada seorang lelaki bersahaja yang tidak mampu membeli mobil sepanjang hidupnya. Tapi sungguh Allah telah menetapkan bahwa rizqinya adalah naik mobil ke mana-mana. Maka para tetangga selalu berkata bergiliran padanya, “Mas, tolong hari ini pakai mobil saya untuk kegiatannya ya. Saya senang kalau Mas yang pakai. Sungguh karenanya terasa ada berkah buat kami sekeluarga.” Dan pemilik mobil pergi bekerja ke kantornya dengan mengayuh sepeda. Sebab itulah yang disarankan dokter padanya.

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dimiliki.

***

Dzat Yang Mencipta kita, sekaligus menjamin rizqi bagi penghidupan kita, adalah Pemilik, Pemelihara, dan Pengatur segala urusan kita. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tiada sekutu bagiNya. Maka bagaimana kiranya, jika anugrah dariNya justru kita gunakan untuk mendurhakaiNya? Maka apa jadinya, jika dengan karuniaNya kita malah tenggelam dalam maksiat dan dosa?

“Sesungguhnya seseorang dihalangi dari rizqinya”, demikian Rasulullah bersabda sebagaimana dicatat oleh Imam Ahmad, “Disebabkan dosa yang dilakukannya.”

Ada beberapa keterangan ‘ulama tentang dosa menghalangi rizqi ini, yang selaiknya kita simak. Pertama, bahwa memang yang bersangkutan terhalang dari rizqinya, hingga ke bentuk zhahir rizqi itu. Ini sebagaimana firman Allah tentang dakwah Nuh pada kaumnya.

"Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan di dalamnya sungai-sungai.” (QS Nuh [71]: 10-12)

“Maknanya”, demikian ditulis Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirul Quranil ‘Azhim, “Jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa mentaatiNya, niscaya Dia akan membanyakkan rizqi kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit.”

“Selain itu”, lanjut beliau, “Dia juga akan mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya terdapat bermacam-macam buah untuk kalian, serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu untuk kalian.”

Jika bertaubat menjadikan berlimpahnya bentuk rizqi, maka berdosa berarti membatalkan semua itu. Ini pemahaman pembalikannya.

Keterangan yang kedua, bahwasanya yang dihalangi dari si pendosa adalah rasa nikmat yang dikaruniakan Allah dari berbagai bentuk rizqi tersebut. Rizqi tetap hadir, tapi rasa nikmatnya dicabut. Rizqi tetap turun, tapi rasa lezatnya dihilangkan. “Maka”, demikian menurut Imam An Nawawi, “Karena dosa yang menodai hatinya, hamba tersebut kehilangan kepekaan untuk menikmati rizqinya dan mensyukuri nikmatnya. Dan ini adalah musibah yang sangat besar.”

Hujjah bahwa semua bentuk rizqi itu tetap turun, ada dalam berbagai hadits Rasulillah. Ada yang sudah kita sebut, demikian pula yang berikut ini:

“Sesungguhnya Jibril mengilhamkan ke dalam hatiku”, demikian sabda Rasulullah dalam riwayat Imam Ath Thabrani dan Al Baihaqi, “Bahwa tidak ada satu pun jiwa yang meninggal kecuali telah sempurna rezekinya. maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezeki. Jangan sampai lambatnya rezeki menyeret kalian untuk mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah, karena apa yang ada pada sisi Allah tidak akan bisa diperoleh dengan bermaksiat kepada-Nya.”

“Apa yang ada di sisi Allah”, demikian lanjut Imam An Nawawi, “Adalah ridhaNya yang menjadikan rizqi itu ternikmati di dunia, berkah senantiasa, dan menjadi pahala di akhirat. Maka memang ia tak dapat diraih dengan kemaksiatan dan dosa.”

“Adapun ayat dalam Surah Nuh”, terusnya, “Khithab da’wahnya ditujukan kepada orang kafir, yang meskipun mereka mengingkari Allah dan menyekutukanNya, tapi Allah tidak memutus rizqi mereka secara mutlak. Akan tetapi, jika mereka beristighfar dan bertaubat, sesungguhnya karunia yang lebih besar pastilah Allah limpahkan.”

Menghimpun kedua catatan ini, amat jadi renungan sebuah kisah tentang Imam Hasan Al Bashri. Pada suatu hari, seorang lelaki datang kepada beliau. “Sesungguhnya aku”, ujarnya pada Tabi’in agung dari Bashrah itu, “Melakukan banyak dosa. Tapi ternyata rizqiku tetap lancar-lancar saja. Bahkan lebih banyak dari sebelumnya.”

Sang Imam tersenyum prihatin. Beliau lalu bertanya, “Apakah semalam engkau qiyamullail wahai Saudara?”

“Tidak”, jawabnya heran.

“Sesungguhnya jika Allah langsung menghukum semua makhluq yang berdosa dengan memutus rizqinya”, jelas Hasan Al Bashri, “Niscaya semua manusia di bumi ini sudah habis binasa. Sungguh dunia ini tak berharga di sisi Allah walau sehelai sayap nyamukpun, maka Allah tetap memberikan rizqi bahkan pada orang-orang yang kufur kepadaNya.”

“Adapun kita orang mukmin”, demikian sambung beliau, “Hukuman atas dosa adalah terputusnya kemesraan dengan Allah, Subhanahu wa Ta’ala.”

***

Lagi-lagi terrenungi, bahwa di lapis-lapis keberkahan, ini soal rasa. Semoga Allah melimpahkan rizqiNya kepada kita, dan menjaga kita dari bermaksiat padaNya. Dengan begitu, sempurnalah datangnya nikmat itu dengan kemampuan kita menikmati rasa lezatnya, lembutnya, dan harumnya. Di lapis-lapis keberkahan, soal rasa adalah terjaganya kita dari dosa-dosa.

sepenuh cinta, dinukil dari:
Lapis-Lapis Keberkahan, Setitis Rizqi

*sumber: http://salimafillah.com/rizqi-kita-soal-rasa/

Bada ta'awudz basmalah solawat dan tahmid.

Tafadhol di simak taushiah nikmat penuh hikmat berikut.

Detik ini menjadi saksi atas mujahadah masing2 dari kami untuk tetap berada di sini. Di jalan yang Allah takdirkan kami untuk saling membersamai dalam kerja amal para dai. Menabur benih amal kebaikan untuk kemudian semua insan dapat menuai dan merasakan.

Beginilah jalan ini..
Tak sepenuhnya berada dalam kenikmatan tak sepenuhnya pula berada dalam kepayahan. Karena ada kemudahan di balik kesulitan.
Karena Allah janjikan mutmainah bagi siapa saja yang murni niatnya untuk jihad dalam dakwah.
Karena Allah takkan membiarkan kaki ini berpijak sendiri. Ketika yang lain berguguran allah kuatkan dan kokohkan yang lain untuk menemani.

Beginilah jalan ini mengajarkan kami..
Untuk bersabar dan tegar. Karena, kami sadar ini hanya secuil dari banyaknya hamparan pahala yang mungkin kami abaikan.
Beginilah jalan ini mengajarkan kami..
Untuk menjaga prasangka dalam bingkai ukhuwah jannah. Mencintai karena Allah dengan kekokohan iman. Menasihati dengan tauladan.
Dan mengajak untuk istiqomah pada jalan ini dengan sebaik baiknya kesabaran.
Jalan ini, Jalan dakwah, Jalan menuju Jannah terindah. Semoga kita berkumpul kembali di sana.

Mari perkuat barisan dengan kekokohan iman dan kesungguhan amal

Persahabatan

7 Macam Persahabatan, Hanya 1 Sampai Akhirat.

1. "Ta'aruffan" persahabatan yg terjalin krn pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM & lainnya.

2. "Taariiihan" persahabatan yg terjalin krn faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama & sebagainya.

3. "Ahammiyyatan" persahabatan yg terjalin krn faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.

4. "Faarihan" persahabatan yg terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, berburu, memancing & sebagainya.

5. "Amalan" persahabatan yg terjalin krn seprofesi, misalnya sama2 guru, dokter & sebagainya.

6. "Aduwwan" sahabat tetapi musuh, depan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, "Bila kamu memperoleh nikmat, ia benci, bila kamu tertimpa musibah, ia senang" (QS 3:120).

Rasulullah mengajarkan doa", Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yg bila melihat kebaikanku ia sembunyi tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan."

7. "Hubban Iimaanan", sebuah ikatan persahabat yg lahir batin, tulus saling cinta & sayang krn ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam2 dipenghujung malam, ia doakan sahabatnya. Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya krn Allah Ta'ala.

Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 - 6 akan sirna di Akhirat. yg tersisa hanya ikatan persahabatan yg ke 7, persahabatan yg dilakukan krn Allah (QS 49:10), "Teman2 akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh
bagi yg lain kecuali persahabatan krn Ketaqwaan" (QS 43:67).

ADA  dimanakah persahabatan kita?
Semoga Bermanfaat.

LLK

"Aku tahu,rezekiku tak akan diambil orang,karenanya aku tenang.. aku tahu amalku tak akan dikerjakan orang,karenanya kusibuk berjuang"
(Hasan al Bashri)

"Janganlah kalian merasa bahwa rezeki kalian datang terlambat,krn sesungguhnya tidaklah seorang hamba meninggal hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir yang ditetapkan untuknya. Maka tempuhlah jalan terbaik dalam mencari rezeki yaitu dengan yang halal dan meninggalkan yang haram"
(HR. Ibnu Majah)

Ada seorang pekerja yang gajinya amat banyak angka nol di belakang bilangan utama, disimpan rapi di bank.. namun jika ia meninggal esok hari,jd rezeki siapakah kiranya? --maka,rezeki bukan yang tertulis sbg angka gaji

Ada seorang pemilik jejaring rumah makan terkenal dg penghasilan yang besarnya mencengangkan, namun sepanjang hidupnya tak pernah ia berbaring di kasur,apalagi ranjang pegas. Tidur di alas empuk hanya membuat tulang punggungnya ngilu. dia hanya bisa beristirahat di atas tikar yang digelar di lantai yang dingin.. -- maka,rezeki bukan soal apa yang sanggup dibeli..

Ada seorang pemilik saham terbesar maskapai penerbangan,tp ia menderita phobia ketinggian,maka seumur hidupnya tak pernah ia berani naik pesawat.. --maka,rezeki bukan soal apa yang dikuasai..

Ada pula,seorang lelaki bersahaja tidak mampu membeli mobil,tapi Allah menetapkannya naik mobil kmna2 ketika sang tetangga mempunyai rezeki mobil berlebih dan meminta lelaki ini menggunakan mobilnya drpd menganggur di garasi..--maka,rezeki bukan soal apa yang dimiliki...

Hamba-hamba yang lalai adl yg berjuang keras mencari rezeki yang sudah dijaminkan tetapi mereka mengabaikan taat yang telah diwajibkan..
Inilah setitis rezeki di lapis keberkahan,apa yang sedikit lagi mencukupi,lebih baik daripada yang banyak tapi melalaikan..

★"lapis-lapis keberkahan" - Salim A. fillah★

Cuplikan taujih Ustadz Anis Matta (Presiden Partai Keadilan Sejahtera) pada SILAGNAS PKS 20 September 2014 di Hotel Sahid Jakarta

dirangkum oleh @roziputranasrun

Minimal ada 3 kata kunci dalam platform perjuangan kita;

1. Islam (yg kita fahami bahwa Islam kita adalah; keterbukaan / inklusif dan moderasi/moderat.. dan dalam kontek ini kita harus memahami dan memakai 3 fiqh sekaligus; fiqh nash / teks, fiqh waqi dan fiqh nizar yaitu bagaimana menurun tekstual dalam kehidupan dan ketiga hal ini harus ada dan bersamaan.

2. Demokrasi .
Tahun-tahun kedepan demokrasi kita terbelah menjadi 2 (sebelumnya 3; kiri, kanan dan tengah) sekarang konservatif dan liberalisme..

3. Konstitusi.
Konstitusi ini harus kita fahami sebagai sebuah kesepakatan bersama dalam bernegara.

Dan kata kunci dalam menuju kepemimpinan nasional adalah KAPASITAS; dan ini mnjadi salah satu tantangan politik kita kedepan. Jangan pernah tergoda untuk memimpin kalau kita tidak memiliki kapasitas ini ikhwah sekalian..

Jalan yang kita pilih haruslah jalan natural. Kita harus nemimpin republik ini dengan kapasitas kita dan kita harus yakin bahwa kalau kita belum memimpin itu artinya menurut Allah kita belum mampu dan memiliki kapasitas..

Nauzubillah... jangan sampai kita diberi kepemimpinan oleh Allah untuk kemudian dihempaskan.

Tugas besar kita kedepan adalah membangun rill power. Ini yang saya maksud kapasitas dan konten dari kapasitas ini: ide, orang dan sumber daya..  jika ini terintegrasi dengan benar maka insyallah kita layak memimpin...

Kapasitas ini baik secara personal maupun secara kolektif. Cara natural inilah yang kita inginkan memimpin secara natural, dengan cara kita sendiri dengan kapasitas kita, bukan krna cara-cara mudah, gampang, cepat tapi RAPUH ... karena kepemimpinan yang akan kita rebut itu nanti akan KITA WARISKAN kepada  generasi kita selanjutnya. AlllahuAkbar!!

Ikhwah sekalian
selain ilmu pngetahuan wawasan, bahasa,  kemampuan orang-orang (pemimpin) berpengaruh pertama kali juga karena gelombang inner personalnya sehingga kapasitas ini - juga menyangkut body care - jangan dianggap ini remeh. Ini bagian dari Tsaqofatus Sihhaah dalam manhaj kita.

Bagian lain adalah meningkatkan pengetahuan untuk memengaruhi orang lain, psikologi memengaruhi orang lain terutama dalam level kebijakan

Bagian lain yg perlu kita kuatkan dan saya sangat garis bawahi adalah persoalan kedisplinan struktural (!!)

Kita menghargai kebebasan individu tapi pada saat yang sama kita harus memegang teguh keutuhan struktural kita. Keutuhan jamaah kita dan itu kata kuncinya ikhwah skalian adalah Kedisplinan (!)

Boleh berbeda di dalam. Silahkan berdebat sekencang-kencangnya didalam, tapi keluar SATU SUARA..!!!

Yang terakhir yang saya ingin garis bawahi adalah dalam posisi kita kedepan.. saya tegaskan bahwa dalam komposisi politik ke depan kita dalam posisi: OPOSISI.

Dan antum jangan sedih kita oposisi. Karena kita dulu juga pernah oposisi...

Antum bayangkan dulu kita hanya punya 7 kursi di DPR tapi kita dengan tegap berdiri: bahwa kami oposisi!

Bedanya saat ini bahwa kita tidak sendiri tapi bersama kawan-kawan yg lain dan bahkan jumlah oposisi kali ini lebih banyak

Tapi jangan pula antum merasa bahwa kita lebih enak beroposisi dan ini bukan pilihan resiko yang kita ambil.. karena apa karena sebenarnya tujuan kita adalah MEMIMPIN!

Sinyal penting ini yang ingin kita perlihatkan kepada kawan-kawan koalisi adalah kita bagaimana berteman yang baik dengan kontribusi ide-ide, wawasan dan KESETIAAN

Yang perlu kita perbaiki terus adalah komunikasi yang baik dan tau menempatkan diri. Inilah nilai-nilai yg ingin kita tunjukkan dalam koalisi.

Saya percaya ini semua nanti insyaAllah menjadi tangga yang besar dalam berbangsa dan bernegara kedepannya.

Saya percayakan kepada antum semua. Buatlah tahun-tahun kedepan menjadi tahun-tahun indah bagi Partai Keadilan Sejahtera.

-End-

Salmon dan Hiu

IKAN SALMON DAN IKAN HIU

Pada menu ikan masakan Jepang, ikan salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika ikan tsb masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah untuk disajikan. Jauh lebih nikmat dibandingkan dgn ikan salmon yg sudah diawetkan dgn es. Itu sebabnya para nelayan Jepang selalu memasukkan salmon tangkapannya ke suatu kolam buatan agar dlm perjalanan menuju daratan salmon² tsb tetap hidup. Meski demikian pada kenyataannya banyak salmon yg mati di dalam kolam buatan tsb.

Bagaimana cara mereka (nelayan Jepang) menyiasatinya ?
Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil di dalam kolam tsb.
Sungguh Ajaib..!
Hiu kecil tsb "memaksa" salmon² itu terus bergerak agar jangan sampai dimangsa si hiu kecil tsb. Akibatnya banyak ikan salmon yg tetap hidup & jumlah salmon yg mati justru menjadi sangat sedikit..!

Diam membuat kita Mati...!
Bergerak membuat kita Hidup...!

Apa yg membuat kita Diam??
Saat tidak ada masalah dlm hidup dan şααt kita berada dlm zona nyaman. Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena. Begitu terlenanya sehingga kita tdk sadar bahwa kita telah mati..!
Ironis, bukan..??

Apa yg membuat kita bergerak..?? Masalah. Tekanan Hidup. dan Tekanan Kerja.

Saat masalah datang, secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha mengatasi semua pergumulan hidup itu.

Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kitapun menjadi berkembang luarbiasa.

Ingatlah, bahwa kita akan bisa belajar banyak dlm hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup.. Itu sebabnya syukurilah kehadiran "hiu kecil" yg terus memaksa kita utk Move ON dan tetap survive.

Bergerak Demi Umat

Minggu, 21 September 2014

Saat Yusuf Membacakan Surat Yusuf

Satu persatu tetamu memenuhi ruangan besar di salah satu hotel di Bali.

Iya...mereka hadir dengan antusias untuk penggalangan dana pembelian tanah untuk sebuah masjid di Denpasar.

Acara pun dimulai. Kekhusyuan mulai terasa. Setelah dibuka dengan kalimat indah dari pembawa acara, maka berlanjut ke pembacaan ayat al-Quran.

Maju ke hadapan seorang anak kecil. Kurus.
Dengan kopiah agak kebesaran.

Saya menoleh, ooh dia tak membawa mushaf al-Quran.
"Ahh paling tasmi' surat pendek di Juz Amma", batin saya bicara.

Mulailah Yusuf (ternyata itu nama nya) membaca ta'awwudz dan basmalah.
Masya Allah...fasih bacaan nya.
Lalu...Yusuf membaca surat Yusuf as.
Saya pun kembali menoleh...ia tak membuka mushaf al-Quran.
Hafalan nya bagus.
Suaranya mendayu sesuai tajwid dan pelafalan huruf.
Terasa berkomunikasi dengan 'hati' kami yang hadir.
Haru.
Syahdu.
Setelah selesai, sepertinya pembawa acara bisa membaca apa yang ada dalam fikiran kami.

"Yang tadi tasmi' atau memperdengarkan al-Quran adalah ananda Yusuf. Beliau kelas VI SD swasta.
Alhamdulillah sudah hafal al-Quran", jelas pembaca acara.

Subhanalloh para hadirin tak kuasa menahan isak tangis.

Seorang anak kelas VI SD sudah hafal al-Quran.
SD swasta, bukan sekolah Islam Terpadu.
Di Bali lagi...
Bahkan (kami tahu setelah acara) ayahnya bekerja hanya sebagai (maaf) tour guide. Artinya penghasilan nya kurang menentu.

Masya Allah...

Kita sering menangisi orang miskin.
Tapi semestinya kita menangisi diri kita sendiri :
- Jika kita miskin iman
- Jika kita miskin semangat
- Jika kita miskin idealisme

Orang miskin materi bisa berubah, saat ia 'kaya' akan iman dan semangat.
Namun orang yang kaya secara materi bisa berubah keadaan nya, saat ia 'miskin' idealisme...apalagi 'miskin' iman...na'udzu billah

Sahabat Nabi, Abu Dzar ra menceritakan bahwasanya Rasulullah saw pernah bertanya kepadanya:

يَا أَبَا ذَر، أَتَرَى كَثْرَةَ الْمَالِ هُوَ الْغِنَى؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ : أَفَتَرَى قِلَّةِ الْمَالِ هُوَ الْفَقْرُ؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قال : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ

“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang banyaknya harta merupakan kekayaan?”.
Aku (Abu Dzar) berkata : “Iya ya Rasulullah”.

Rasulullah saw berkata : “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta merupakan kemiskinan?”.
Aku (Abu Dzar ) berkata, “Benar wahai Rasulullah”.

Rasulullahpun berkata : “Sesungguhnya kekayaan (yang hakiki) adalah kayanya hati, dan kemisikinan (yang hakiki) adalah miskinnya hati”.

(HR Ibnu Hibbaan dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam shahih At-Targiib wa At-Tarhiib no 827)

Sabtu, 20 September 2014

MLM

Bismillah.. moga bermanfaat
Bila positif diamalkan.. bila negatif tinggalkan 
Twitt dari @JayaYEA (Jaya Setia bUdi)
Author "The Power of Kepepet"

1.Apa pendapat saya tentang #MLM ? Agak kontroversi.. Yuk bantu RT..

2.Dulu sudah pernah saya twit dari sisi pengalaman saya sendiri di thn 2001-2003 saat ikut jadi pelaku #MLM. Kali ini beda cerita..

3.Om Kiyosaki bilang "#MLM adalah Sekolah Bisnis" >> ini saya alami, banyak pelajaran yg saya dapat disana.

4.Di #MLM kita belajar: 1.PeDe 2.Prospect 3.F-up 4.Team Building 5.Public Speaking dan banyak lagi..

5.Kalo dapat leader dan jaringan yg punya support sistem yg bagus, kenyang deh kita dengan ilmu2 berkualitas. #MLM

6.Pertanyaannya: Kalo SEKOLAH, bagusnya ada KELULUSAN. Nah, LULUSnya MLM itu harusnya BUKA USAHA, bukan cuma jualin produk orang. #MLM

7.Kenapa #MLM banyak dibenci orang? Ini juga menarik u/ disimak. <siap2 diserbu praktisi MLM nih :p>

8.a.Praktisi #MLM MAYORITAS 'tukang kejar' orang saat mau prospek. b.Yg tadinya ngilang, tau2 sok akrab & nongol. Bener kan?

9.c.Karena cuci otaknya dahsyat + ngejar komisi, ngecap produknya berlebihan. "Produk ini direkomendasikan Prof ABC (gak terkenal) #MLM

10."Dapat menyembuhkan semua jenis penyakit, sangat LUAR BIASA dan sudah dipakai oleh orang2 LUAR BIASA SEKALI." JeDuEErrr..! #MLM

11."POKOKNYAAAAHHH.. BELI PASTI UNTUNG" #berBuSSa >> iya, paling gak, untung gak loe datengin & prospek lagi kalee.. #MLM

12."Kita kan niatnya mau bantu Anda..!" >> Itu kan menurut Anda, bukan saya tho.. Lagian, saya fain-fain aja koq. Beuhh.. #MLM

13.Gak semua seperti itu sih.. tapi mayoritas POLA-nya seperti itu. Gak ada yg benar atau salah, adanya KONSEKUENSI. #MLM

14.Jika Anda melakukan praktik2 spt itu (order seeker+NGECAP POL), maka Anda akan merusak jaringan Anda sendiri, terutama pertemanan. #MLM

15.Upline bilang ke Downline "Bantu kawan2 terdekatmu" >> itu bahasa dia buat menghancurkan jaringan Anda & dia dapat komisinya. #MLM

16.Apalagi kalo sudah yang pakai2 nama JUAL HAK BISNIS >> silakan cek hukum keHARAMannya. Opo yang dijual? #MLM

17.Buat Praktisi #MLM jangan kecil hati. Jadikan twit saya ini sbg KONTROL diri Anda, jangan sampe kebablasan. Sayang pertemanan. #MLM

18.Contohnya alumni ECamp yg ikutan #MLM biasanya otomatis dijauhi, karena PROSPEK & BM-nya naudzubillah menjengkelkan. #MLM

19.Saya GAK PEDULI penghasilan Anda 700 Juta Sebulan (sebulan aja, maksudnya), karena saya tak mau MELACURKAN NAMA saya u/ Bisnis. #MLM

20.Saya masih ingin berjumpa kawan2 saya dengan senyuman tulus, bukan nyinyir atau takut diprospek & matikan hp saat lihat nama saya. #MLM

21.Saya masih ingin kawan2 menelepon & bilang "kangen loe Jay, ngopi2 yuk", bukannya kesepian pamer foto sushi di Jepang. #MLM

22.Saya lebih memilih naik bus/kereta bersama kawan2, daripada naik BMW (ini merek yg paling sering mrk disebut) & pamer2.. #MLM

23.Sadarlah wahai pelaku #MLM, benarkah Anda ingin membantu orang lain saat prospek atau terngiang2 closing & komisi lihat muka kawan.

24.Menjadi kaya itu bagus, bisa banyak bantu orang, tapi gunakanlah cara yang tak mengorbankan orang lain. #MLM

24.Menjadi kaya itu bagus, bisa banyak bantu orang, tapi gunakanlah cara yang tak mengorbankan orang lain. #MLM

25.Jika tersinggung, saya bersyukur.. semoga diberikan kerendahan hati u/ merenung.. sekian.. #MLM

Keajaiban

"KEAJAIBAN"
Oleh ust.Salim A. Fillah

Iman itu terkadang menggelisahkan.

Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang
mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban.
Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia
meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan
bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat
Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau
akan kuasaKu?” , dia menjawab sepenuh hati,
“Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi
tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di
hadapannya. Meski Allah bisa saja
menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”,
kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus
bersipayah untuk menangkap lalu mencincang
empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran
bukit-berbukit dengan lembah curam untuk
meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia
bisa memanggilnya. Dan beburung itu
mendatanginya segera.
Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja
yang menguras tenaga.
Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan
ditaburi keajaiban?
Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh
Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap
kegersangan yang membakar. Yang ada hanya
pasir dan cadas yang membara. Tak ada
pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air
untuk menyambung hidup. Tak tampak insan
untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il.
Dia kini mulai menangis begitu keras karena
lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak
air untuk menjawab tangis putera semata
wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari
ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan
seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda.
Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik
tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air
di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan
kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah
ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah,
Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam! Bukan.
Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak
yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa.
Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi.
Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-
jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban
datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-
ikhtiar kita.
Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja
keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita
kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar
dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak
pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita.

Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan
yang tak kita sangka atas kehendakNya yang
Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu
menenangkan hati ini dari arah manapun Dia
kehendaki.
Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa
dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang
lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah.
Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak
sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah
yang pernah memudahkannya. Dia,
‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang
tahu gaya hidupnya di Makkah
mempersaudarakannya dengan seorang lelaki
Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.
Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu
menawarkan membagi rata segala miliknya
yang memang berjumlah dua; rumah, kebun
kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan
bersahaja berkata, “Tidak saudaraku..
Tunjukkan saja jalan ke pasar!”
Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga
‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci
menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah,
terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf
memang datang ke pasar dengan tangan
kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya
dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan
dirham yang beredar di depan matanya dia pikat
dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari
riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi,
transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.
Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang
Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran
minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya
Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya
dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita
Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas
seberat biji kurma. Walimahnya dengan
menyembelih domba. Satu hari, ketika 40.000
dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi,
beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi
yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”
Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang
memasuki surga sambil merangkak.
Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin
justru pada keberaniannya untuk menanggalkan
segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam
pikiran kita, memulai usaha dengan seorang
isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun
kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada
pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi
bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru
terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban
yang memberati langkahnya untuk menggapai
kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu
datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si
tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang
ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti
‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi
penyemangat kita bahwa itu semua mudah.
Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan
itu? Suatu hari dalam perjamuan Raja
Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang
mencibir perjalanan Columbus menemukan
dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat
mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu
ketemu.
Christopher Columbus tersenyum dari kursinya.
Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari
piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya
menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa
di antara kalian yang mampu memberdirikan
telur ini dengan tegak?”
“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu
adalah hal yang tidak mungkin!”
Semua mengangguk mengiyakan.
“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai
sejenak lalu memukulkan salah satu ujung
telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.
“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata
seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan
senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah
bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku
memang hanya melakukan hal-hal yang mudah
dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya
di saat semua orang mengatakan bahwa hal
mudah itu mustahil!”

NAH, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka
keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.
Mulailah. Karena dalam keberanian memulai
itulah terletak kemudahannya. Bukan soal
punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu.
Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja
adalah bentuk kesyukuran yang terindah.

Seperti firmanNya;
..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur.
Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang
pandai bersyukur. (QS Saba’: 13)

Saat Cinta Memanggilnya

 Saat Cinta Memanggilnya 

Nabi Ibrohim cinta pada keluarganya tp ia lebih cinta pada penciptanya, Allah swt.
Jadi Saat Cinta itu Memanggilnya, ketika perintah Allah itu datang, ia bersegera menyambutnya.
Meski ia harus meninggalkan keluarganya di negri tandus tanpa naungan dan telaga,
ia lakukan sepenuh jiwa.
Karena cinta telah menggerakkannya.

Nabi Ibrohim cinta pada anaknya ismail, tp ia lebih cinta pada Robbnya.
Jadi saat perintah itu tiba, ia bersegera, walaupun harus memotong belahan jiwanya.

Begitu pula sang istri tercinta.
Siti Hajar sayang pd keluarganya, pd suaminya, pd anaknya.
Namun ia lebih sayang pd Allah swt, bukankah Allah Sang Maha Penyayang.
Jadi ketika Cinta Memanggilnya, menyeru namanya, saat ia harus ditinggal seorang diri, berpisah dgn sang kekasih hati, ditempat tandus, yg sepi tanpa penghuni, hanya berdua dgn sang buah hati,
tak ada rasa galau dan ragu dihatinya,
sami'na wa atho'na.
Ia hanya bertanya "Allahu amaroka bi hadza?
"Apakah Allah yg menyuruh engkau melakukan hal ini?

Dan begitu jg sang putra tercinta.
Ismail sangat cinta pada Robbnya.
Maka ketika Cinta itu Memanggilnya, ia buktikan dgn sepenuh jiwa, meskipun harus merelakan nyawanya, ia berkata
“wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kau akan mendapatiku termasuk orang-orang yg sabar”

Itulah indahnya  kisah cinta nan setia dari tulusnya jiwa...
Bagaimana dg Kita...???   

-Ust. Ismeidas-

Rabu, 17 September 2014

Amalan Yang Terbaik

Bismillah ..
Murid : Berilah kami nasehat tentang amalan yang terbaik.

Guru Sufi : Amal yang terbaik adalah menurut tingkat dirimu.

Jika engkau seorang penakut, amal terbaikmu adalah berkata benar di hadapan penguasa yang zalim atau berjihad di jalan Allah ..

Jika dirimu mempunyai dendam dan teraniaya, amal terbaikmu adalah memaafkan dan menjalin silaturahim ..

Jika engkau anak durhaka, sebaik-baik amal perbuatanmu adalah berbakti kepada kedua orang-tua dan selalu mendo’akan mereka ..

Jika dirimu senang bertengkar dan berdebat, amalan yang terbaik bagimu adalah tawadlu dan mengurangi bicara ..

Jika engkau tamak dan bakhil, amalan terbaikmu adalah menjadi seorang dermawan dan selalu bersedekah ..

Jika kau pemalas, yang terbaik bagimu adalah shalat di awal waktu dan tidak meninggalkan shalat malam ..

Jika kau suka bergunjing, amalan utamamu adalah sibuk berdzikir..

Jika dirimu riya dan sombong, perbuatan terbaikmu adalah berlatih zuhud dan berpuasa ..

Jika kau menderita, yang terbaik bagimu adalah bersabar ..
Jika kau kaya, amalan utama bagimu adalah bersyukur ..
Jika kau miskin, perbuatan terbaikmu adalah rajin berusaha ...

Jika kau pintar, amalan terbaikmu adalah mengajarkan ..
Jika kau bodoh, yang terbaik untukmu adalah belajar ..

Bergegaslah wahai jiwa jiwa untuk melakukan kebaikan

Selasa, 16 September 2014

Jika bersama dakwah saja... kau serapuh itu...Bagaimana mungkin dengan seorang diri?? Sekuat apa kau jika seorang diri...???
'Mereka yang berhasil dalam tarbiyah dzatiyah akan tampil sbg manusia jujur, ikhlas dan merdeka. Karenanya: Hindarilah bergincu dng ilmu sbgmna enkau mnghndari ujubmu atas amalmu, jangan engkau myakini bhwa aspek batin dari adab dpt dikalahkan oleh sisi zahir dari ilmu. Taatilah Allah dalam menentang manusia dan jangn taati manusia dlm menentang Allah SWT,

#Wahai Murabbi Fillah...
Jadikanlah setiap detik adl kerja ikhlas dg amal heroik
Setiap jantung berdetak adl karya cerdas dg karya yg tercetak
Setiap tetes keringat adl kerja keras sbg syukur nikmat
Setiap tetes air mata adl kerja mawas sbg lautan maghfirah
Setiap tetes darah adl kerja tuntas untuk melaundry dosa

#Orang yg potensial sudah mengaji/mentoring, akn sangat berbahaya kalau menganggur
Berafiliasi pd kebenaran
Berpartisipas pd kebaikan
Berkontribusi membangun peradaban

#Ketika 1000 orang membangun, ada 1 orang merusak bangunan itu cukuplah kerusakan terjadi dimana mana
Bagaimana bila yg membangun hnya seorang sedang yg merusak ribuan orang?

#Jangan kalah dg masalah

#Makna krikil dalan komunitas besar itulah kita

#Sesungguhnya hati kita tdk akn mudah sakit apabilakita fokus utk mmberi manfaat kepada orang lain. Namun kita akn cepat merasakan sakit apabila hanya sibuk memikirkan diri sendiri

#Murabbi   center of excelent
Semua amal tergantung niat
Bila hati itu suci maka ia akn mudah menerima kebenaran dan ringan melakukan kebaikan

#murobi ideal
Cerdas
Motivational
Inspirational
Sabar
Tegas

#ilmu yang menguatkan jiwa menajamkan hati, mengasah kepekaan, dan membangkitkan rohani yaitu ilmu ikhlas
Ilmu berkaitan dg tugas. Fahman syamillan. Bicara berdasarkan ilmu
Ilmu utk berbicara. Ilmu psikologi komunikasi dan sosiologi masyarakat/audience agar pesan dakwah sampai.

Q.S. Al Jumu'ah : 2
 Quantum Tarbiyah :
 Tilawah  to follow  agar tahu
 Tazkiyah  sucikan jiwa  agar mau
 Ta'lim  tambah ilmu  agar mampu

#Seorang mu'min adalah pemilik hati yg tajam pada saat terjadinya syubhat & pemilik akal sempurna ketika bergejolaknya syahwat (Ibnu Taimiyah)

Tarbiyah bukan teori tapi PRAKTIKUM

Untuk menjadi mentor di awal tidak mesti punya PENGALAMAN karna kalau menunggu punya pengalaman tidak akan ada yg pernah jadi Murabbi/Mentor.
Tidak hanya aspek KOGNITIF, terjun saja langsung sambil bulatkan tekad untuk belajar & beramal. Maka akan kau dapati nikmatnya membina. Intinya BULATKAN TEKADMU

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah

Semoga menjadi renungan buat kita bersama ... Sebait Catatan Nasihat
(Alm) Ustadz Rahmat Abdullah.

"Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah"

Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.

Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanita, tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.

Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang, tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.

Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.

Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang,
tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.

Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, mushaf Al-Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan memukuli orang-orang yang bermaksiat.

Sungguh teramat merugi... mereka yang mengikuti hawa nafsu kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dlm dakwah ilallah, tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan. Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah..

Dan sungguh, Kecewa itu biasa dan 'manusiawi' yang luar biasa, siapa saja yang mampu beristighfar dan lalu berlapang dada serta bertawakkal pada-Nya.

Memang... Dakwah ini berat... karenanya ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang :

1. Memiliki hati sekuat baja.

2. Memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.

3. Memiliki kekuatan yang berlipat.

4. Memiliki keihklasan dalam beramal yang meninggi.

5. Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan.

Siapapun tak akan pernah bisa bertahan...melalui jalan dakwah ini... mengarungi jalan perjuangan... kecuali dengan KESABARAN!!!

Karenanya... Tetaplah disini... dijalan ini...bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh... Sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya...tetaplah disini...

Buanglah hawa nafsu dalam mengarungi perjalanannya, karena telah banyak yang bergugugran karenanya.

Gandenglah selalu iman kemana saja kita melangkah, karena iman akan menjagamu setiap waktu. Seburuk apapun, sekeruh apapun kondisi kapal layar kita, jangan lah sekali2 mencoba untuk keluar dari kapal layar ini dan memutuskan berenang seorang diri... karena pasti kau akan kelelahan dan memutuskan menghentikan langkah yang pada akhirnya tenggelam disamudra kehidupan...

Minggu, 14 September 2014

Kisah inspiratif


Sebuah
kisah persaudaraan Islam yang demikian
eratnya. Kisah Ukhuwah Islamiyah di atas
segalanya. saya memberinya judul "Agar
Jangan Sampai Dikatakan.." Inilah kisah
True Story yang terjadi pada zaman
kekhalifahan Umar bin Khattab.
Suatu hari Umar sedang duduk di bawah
pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di
sekelilingnya para sahabat sedang asyik
berdiskusi sesuatu. Di kejauhan datanglah 3
orang pemuda. Dua pemuda memegangi
seorang pemuda lusuh yang diapit oleh
mereka
Ketika sudah berhadapan dengan Umar,
kedua pemuda yang ternyata kakak beradik
itu berkata,
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai
Amirul Mukminin!" "Qishashlah pembunuh
ayah kami sebagai had atas kejahatan
pemuda ini!".
Umar segera bangkit dan berkata,
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah
engkau membunuh ayah mereka wahai
anak muda?" Pemuda lusuh itu menunduk
sesal dan berkata, "Benar, wahai Amirul
Mukminin."
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.",
tukas Umar.
Pemuda lusuh itu memulai ceritanya,
"Aku datang dari pedalaman yang jauh,
kaumku memercayakan aku untuk suatu
urusan muammalah untuk kuselesaikan di
kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku
pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan
dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut
melihat seorang laki-laki tua sedang
menyembelih untaku, rupanya untaku
terlepas dan merusak kebun yang menjadi
milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat
marah, segera kucabut pedangku dan
kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari
kedua pemuda ini."
"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah
mendengar ceritanya, kami bisa
mendatangkan saksi untuk itu.", sambung
pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal
yang lain.
Umar tertegun dan bimbang mendengar
cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini
pemuda shalih lagi baik budinya. Dia
membunuh ayah kalian karena khilaf
kemarahan sesaat', ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua
memaafkannya dan akulah yang akan
membayarkan diyat atas kematian ayahmu",
lanjut Umar.
"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua
pemuda masih dengan mata marah
menyala, "kami sangat menyayangi ayah
kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa
belum dibalas dengan jiwa".
Umar semakin bimbang, di hatinya telah
tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh
yang dinilainya amanah, jujur dan
bertanggung jawab.
Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata,"Wahai
Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah,
laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha
dengan ketentuan Allah" ujarnya dengan
tegas,
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu
urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari.
Aku akan kembali untuk diqishash".
"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau
kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya
Umar.
"Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin,
bagaimana pendapatmu jika aku mati
membawa hutang pertanggungjawaban
kaumku bersamaku?" pemuda lusuh balik
bertanya.
"Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari.
Tapi harus ada yang mau menjaminmu,
agar kamu kembali untuk menepati janji."
kata Umar.
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di
sini. Hanya Allah, hanya Allah lah
penjaminku wahai orang-orang beriman",
rajuknya.
Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar
suara lantang, "Jadikan aku penjaminnya
wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al Farisi yang berkata..
"Salman?" hardik Umar marah, "Kau belum
mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan
main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan
perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan
aku mempercayainya sebagaimana engkau
percaya padanya", jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati Umar
mengizinkan Salman menjadi penjamin si
pemuda lusuh.
Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-
tanda kedatangan si pemuda lusuh.
Begitupun hari kedua.
Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah
si pemuda akan kembali. Karena mudah
saja jika si pemuda itu menghilang ke
negeri yang jauh.
Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai
meragukan kedatangan si pemuda, dan
mereka mulai mengkhawatirkan nasib
Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw
yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari mulai
berakhir, orang-orang berkumpul untuk
menunggu kedatangan si pemuda lusuh.
Umar berjalan mondar-mandir
menunjukkan kegelisahannya. Kedua
pemuda yang menjadi penggugat kecewa
karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan,
Salman dengan tenang dan penuh
ketawakkalan berjalan menuju tempat
eksekusi. Hadirin mulai terisak, orang hebat
seperti Salman akan dikorbankan.
Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok
bayangan berlari terseok-seok, jatuh,
bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
"Itu dia!" teriak Umar, "Dia datang menepati
janjinya!".
Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas
tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di
pengkuan Umar.
"Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku.."
ujarnya dengan susah payah, "Tak kukira..
urusan kaumku.. menyita..banyak..
waktu..".
"Kupacu.. tungganganku.. tanpa henti,
hingga.. ia sekarat di gurun.. terpaksa..
kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana.."
"Demi Allah", ujar Umar menenanginya dan
memberinya minum, "Mengapa kau susah
payah kembali? Padahal kau bisa saja
kabur dan menghilang?"
"Agar.. jangan sampai ada yang
mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak
ada lagi ksatria.. tepat janji.." jawab si
pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan
haru,
lalu ia bertanya, "Lalu kau Salman,
mengapa mau-maunya kau menjamin
orang yang baru saja kau kenal?"
"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan
Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya
dan mau menanggung beban saudaranya",
Salman menjawab dengan mantap.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis
haru dengan kejadian itu.
"Allahu Akbar!" tiba-tiba kedua pemuda
penggugat berteriak,
"Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa
kami telah memaafkan saudara kami itu".
Semua orang tersentak kaget.
"Kalian.." ujar Umar, "Apa maksudnya ini?
Mengapa kalian..?" Umar semakin haru.
"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan
Muslimin tidak ada lagi orang yang mau
memberi maaf dan sayang kepada
saudaranya" ujar kedua pemuda
membahana.
"Allahu Akbar!" teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga
oleh semua orang.
Begitupun kita disini, di saat ini..
sambil menyisipkan sebersit rasa iri karena
tak bisa merasakannya langsung bersama
saudara-saudara kita pada saat itu..
"Allahu Akbar..."

Sabtu, 13 September 2014

Lelaki Idaman Al Qur'an

Lelaki idaman quran, by: ust fatih karim @ aql
# Lelaki harus tegas dengan urusan akhirat (ex. Memegang teguh Fiqih)
# yang membedakan lelaki n perempuan :
--> lelaki dlm quran pny keunikan khas dia adalah pemimpin, harus punya pemahaman islam utuh krn dia harus bertanggung jwb thd ibunya,  istrinya,  Adek perempuan n anak perempuannya
Yg harus dimiliki lelaki ideal :
1. Quwatul jasadiah: sehat jasmani (rajin Shalat malam, berolah raga, pola makan yg baik -->renang berkuda memanah dll kurangi kebanyakan tidur krg lebih 5 jam)
2. Quwatul fikriyah: akidah islamiyah --> cara berpikir islam, membina diri dgn ilmu islam, lelaki harus cerdas (ngaji, khusnul fiqih, ulumul quran, ulumul hadits,sirah nabawiyah,bekali  dll) co jangan suka mendownload atau melihat pornografi krn terbukti merusak beberapa sel otak
3. Quwatul Ruhiyah: kesadaran hubungan dgn Allah yg kuat shg kemana2 ingat Allah dan meniatkan segalanya lillahita'ala (banyak amal soleh --> tahajud, dhuha, rawatib, Shalat tasbih, amalan puasa sunah, muamalah dengan sesama manusia) bila mengamalkan amalan tsb hati melembut, tidak akan pernah berbuat kasar kepada istri n keluarganya selalu memperlakukan mereka dgn lembut penuh kasih sayang jauh dari kasar n melakukan kekerasan dlm rmh tangga, harus bisa manajemen qalbu
--> itulah syarat lelaki idaman dalam perspektif islam
--> mulai isi dan latihlah diri dgn 3 hal diatas

Jangan sombong

" Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hasan al-Basri melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan
dengan seorang perempuan.
Di sisi mereka terletak sebotol arak.

Kemudian Hasan berbisik dalam hati, “Alangkah buruk akhlak orang itu dan   baiknya kalau dia seperti aku!”
Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi segera terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas karena karam.

Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan.
Kemudian dia berpaling ke arah Hasan al-Basri dan berkata, “Jika engkau memang lebih mulia
daripada saya, maka dengan nama Allah, selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang.”

Bagaimanapun Hasan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu bertanya padanya. “Tuan, sebenarnya perempuan yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan anggur atau arak.”

Hasan al-Basri tertegun lalu berkata, “Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dr tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan.”

Lelaki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan.”
Semenjak itu, Hasan al-Basri semakin dan selalu merendahkan hati bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih daripada orang lain.

Jika Allah membukakan pintu shalat tahajud untuk kita, janganlah lantas kita memandang rendah saudara seiman yang sedang tertidur pulas.

Jika Allah membukakan pintu puasa sunnah, janganlah lantas kita memandang rendah saudara seiman yang tidak ikut berpuasa sunnah.

Bisa jadi orang yang gemar tidur dan jarang melakukan puasa sunnah itu lebih dekat dengan Allah, daripada diri kita.Ilmu Allah sangat amatlah luas...

Jangan pernah ujub & sombong pada amalanmu.

Jumat, 12 September 2014

10 KARAKTERISTIK SEORANG PEMUDA MUSLIM


Seorang Muslim yang tangguh hendak memiliki beberapa kualifikasi dari karakter-karakter utama berikut ini :
1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. 6:162). Karena aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.
2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).
4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)
5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ” pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS 2:219)
Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas.
Bisa dibayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.
Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman Allah yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39:9)
6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)
7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.
Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.
Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.
9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.
10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.
Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).
Semoga Allah Al Hadi memberikan hidayah dan petunjuknya, agar kita dapat menjadi pribadi muslim tangguh sebagiamana yang kita impikan bersama. Amin Ya Allah.

Kamis, 11 September 2014

Hasan Al Bashry berkata; “Sejatinya setiap kita adalah kumpulan hari-hari. Ketika hari-hari berlalu, maka semakin habis pula bagian dari diri kita”
Imam syafi`i berkata, 
"Jika engkau tidak menyibukkan diri dengan kebenaran, maka engkau akan disibukkan kebatilan”.
Ibnu Qoyyim berkata; “menyia nyiakan waktu itu lebih berbahaya daripada kematian. Sebab kematian hanya memisahkanmu dari dunia. Sedangkan menyia-nyiakan waktu akan menjauhkanmu dari Allah".
Selamat memanfaatkan hari ini dgn amalan terbaik yg kita punya..
Apabila engkau melihat dirimu cenderung berbuat maksiat maka ketahuilah bahwa penyebabnya ialalah kemaksiatan yang telah engkau kerjakan sebelumnya. Sebab, kemaksiatan itu menumbuhkan kemaksiatan yang lain, dan dosa menumbuhkan dosa yang lain. "Kemaksiatan adalah akibat dari kemaksiatan sebelumnya, dan kebaikan setelah kebaikan adalah buah dari kebaikan pertama." Inilah yang di katakan Ibnu Jauzi dalam kitab Saidul Khatir. Para salaf sangat takut dengan kemaksiatan sekecil apapun karena mereka faham bahwa kemaksiatan itu akan memicu kemaksiatan yang lain.
Sufyan berkisah tentang seseorang yang berkata, "Sungguh aku sekali berdusta dan aku melihat pengaruhnya dalam amalanku." (Hilyatul Auliya;5/184)
Abu Sulaiman Ad-darani mengatakan, " Aku sedang sakit dan aku mengetahui dosa mana yang membuatku sakit."
Makhul Asy-Syami berkata, "Aku melihat seseorang sedang shalat. Setiap kali ruku' dan sujud dia menangis maka aku menuduhnya dalam hati bahwa orang tersebut berbuat riya' dengan tangisnya. Karena itu, aku terhalang dari menangis selama setahun."
MasyaAllah begitu hebat pengaruh nya kemaksiatan meski terselubung di dalam hati, kisah para ulama terdahulu membuat kita malu, betapa jauh nya keadan mereka dengan kita saat ini. Ya Allah ya Robb bimbinglah kami agar dapat meneladani genersai emas ummat ini yaitu salafussholeh.
Kita ini lemah sehingga Allah lah yg menguatkan, kita ini pendosa oleh karenanya Allah lah yg mengampuni, kita ini butuh sehingga Allah lah yg mencukupi. Allahu musta'an

Bismillah

Dengan nama-Mu kan ku goreskan cinta ini pada-Mu