Selasa, 30 September 2014

Ikhwahfillah,
Kita pahami bahwa Tarbiyah memiliki sifat kepastian yang akan terjadi sepanjang masa, yang sering kita sebut dengan

حتميّة التّر بيّة

(Kepastian dalam Tarbiyah)

 Sulit Tapi Kokoh;
Tidak ada yang menjamin ada kemudahan dalam proses yang kita jalankan. Setiap waktu,fase dan kondisi selalu ada kesulitan yang kita alami dan selalu bertambah-tambah.

Namun, hasilnya sangatlah KOKOH  apabila hidayah dan Celupan Allah telah masuk ke dalam Hati para Pemuda.

Ia akan siap mengabdi Total kepada Allah dan tampil menjadi pemburu syurga yang siangnya seperti penunggang kuda dan malamnya seperti Rahib yang selalu meleleh air matanya karena takut kepada RobbNya

 Panjang Tapi Terjaga Keasliannya:

Dakwah ini memakan waktu setiap Generasi. Jalan panjang bahu membahu pencapaian cita-cita.

Karenanya Tarbiyah yang menjadi basis pembentukan Rijal-rijal Dakwah memiliki kepastian berupa sangat panjang prosesnya. Tak ada yang sanggup prediksi, berapa lama seseorang harus tarbiyah..

Namun, hasil tempaannya mampu terjaga keasliannya.

Pribadi Asholah adalah mereka yang kepribadiannya akan senantiasa terjaga dan tak lekang dimakan zaman.

Laiknya Abu Tholhah RA, salah seorang Sahabat yang Allah berikan Umur panjang sampai era Ustman RA.

Yang di ujung hidupnya tetap ikut dalam peperangan Maritim melawan ROMAWI.

Can You Imagine?
Kepribadiannya kokoh dan Keasliannya tetap terjaga walau sang Murobbi telah tiada.

 Lambat Namun Terjamin Hasilnya.

Seorang Ulama mengatakan, Dakwah adlah lari estafet dan Bukan Sprint.

Untuk itu diperlukan kesabran dan kerja kolektif sampai ke Garis finish.

Walau terlihat lambat namun ada JAMINAN untuk Hasil yang pasti.

Salah satu Jaminan dalam proses Tarbiyah adalah sikap yang Integral, tidak mendua dan Tidak Terbelah.

Salah satu hasil tempaan trbiyah adalah, Kepribadiaan yang Terjamin ketika menghadapi masa sulit.

Ia tidak akan mengalami turbulensi Aqidah, akhlak, ibadah maupun amal sholih lainnya.

Laiknya Abu Bakar yang tetap membenarkan perkataan Nabi Saw terkait Isra wal Mi'raj dikala banyak muslim yang tak percaya.

Laiknya abu Ayuub al-Anshory dan Istrinya yang memiliki integritas akhlak ketika menepis fitnah Haditsul Ifki yang menimpa Aisyah RA.

Demikian,
Hasil-hasil Tarbiyah yang kelak akan menjadi barisan-barisan Setia Allah.

Karenanya,
Hadirkanlah Samudera kesabaran yang tak kering walau perubahan Iklim atau rekayasa Iklim untuk urusan Tarbiyah..


Bila air mata enggan MENYUSUT... Pergilah tuk BERSUJUD...
Bila air mata masih saja BERLINANG
Bersegeralah untuk bersembahyang
Bila sedih dan duka tak kunjung SIRNA ...
Bukalah tanganmu untuk BERDOA. ..
Dan bila kita tak mampu TEGAR... Gerakkan bibir untuk selalu ISTIGHFAR... 
Biarkan ia MENGALIR kala ada rasa GETIR.
Biarkan ia BASAH kala jiwa GUNDAH.
Ketahuilah keberadaan air mata kan menyibak api NERAKA.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1338]).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1363])

Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Sungguh, menangis karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”.

Ka’ab bin al-Ahbar rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya mengalirnya air mataku sehingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas yang besarnya seukuran tubuhku.

Selasa, 23 September 2014

"Rizqi Kita, Soal Rasa" | Salim A Fillah

Aku tahu, rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang..
Aku tahu, ‘amalku takkan dikerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang..
-Hasan Al Bashri-

Pemberian uang yang sama-sama sepuluh juta, bisa jadi sangat berbeda rasa penerimaannya. Kadang ia ditentukan oleh bagaimana cara menghulurkannya.

Jika terada dalam amplop coklat yang rapi lagi wangi, dihulurkan dengan senyum yang harum dan sikap yang santun, betapa berbunga-bunga kita menyambutnya. Apatah lagi ditambah ucapan yang sopan dan lembut, “Maafkan sangat, hanya ini yang dapat kami sampaikan. Mohon diterima, dan semoga penuh manfaat di jalan kebaikan.”

Ah, pada yang begini, jangankan menerima, tak mengambilnya pun tetap nikmat rasanya. Semisal kita katakan, “Maafkan Tuan, moga berkenan memberikannya pada saudara saya yang lebih memerlukan.” Lalu kita tahu, ia sering berjawab, “Wah, jika demikian, kami akan siapkan yang lebih baik dan lebih berlimpah untuk Anda. Tapi mohon tunggu sejenak.”

Betapa berbeda rasa itu, dengan jumlah sepuluh juta yang berbentuk uang logam ratusan rupiah semuanya. Pula, ia dibungkus dengan karung sampah yang busuk baunya. Diberikan dengan cara dilempar ke muka, diiringi caci maki yang tak henti-henti. Betapa sakitnya. Betapa sedihnya. Sepuluh juta itu telah hilang rasa nikmatnya, sejak mula ia diterima.

Inilah di antara hakikat rizqi, bahwa ia bukan soal berapa. Sungguh ia adalah nikmat yang kita rasa. Sebab sesungguhnya, ia telah tertulis di langit, dan diterakan kembali oleh malaikat ketika ruh kita ditiupkan ke dalam janin di kandungan Ibunda. Telah tertulis, dan hendak diambil dari jalan manapun, hanya itulah yang menjadi jatah kita. Tetapi berbeda dalam soal rasa, karena berbeda cara menghulurkannya. Dan tak samanya cara memberikan, sering ditentukan bagaimana adab kita dalam menjemput dan menengadahkan tangan padaNya.

Rizqi memiliki tempat dan waktu bagi turunnya. Ia tak pernah terlambat, hanyasanya hadir di saat yang tepat.

“Janganlah kalian merasa bahwa rizqi kalian datangnya terlambat”, demikian sabda Rasulullah yang dibawakan oleh Imam ‘Abdur Razzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, “Karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba meninggal, hingga telah datang kepadanya rizqi terakhir yang ditetapkan untuknya. Maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, yaitu dengan  yang halal dan meninggalkan yang haram.”

Jika jodoh adalah bagian dari rizqi, boleh jadi berlaku pula kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar, dan tiada salah tanggal. Tetapi rasa kebersamaan, akan ditentukan oleh bagaimana adab dalam mengambilnya. Bagi mereka yang menjaga kesucian, terkaruniakanlah lapis-lapis keberkahan. Bagi mereka yang mencemarinya dengan hal-hal mendekati zina, ada kenikmatan yang kan hilang meski pintu taubat masih dibuka lapang-lapang. Sebab amat berbeda, yang dihulurkan penuh keridhaan, dibanding yang dilemparkan penuh kemurkaan.

Rizqi adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian. Ujian yang menentukan rasa kehidupan. Di lapis-lapis keberkahan dalam setetes rizqi, ada perbincangan soal rasa. Sebab ialah yang paling terindra dalam hayat kita di dunia.

***

Di antara makna rizqi adalah segala yang keluar masuk bagi diri dengan anugrah manfaat sejati. Nikmat adalah rasa yang terindra dari sifat maslahatnya. Kasur yang empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh, dan bukan di ranjang kencana yang teduh. Hidangan yang mahal dapat dipesan, tetapi lezatnya makan adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di wadah daun pisang bersahaja, bukan di piring emas dan gelas berhias permata.

Atau bahkan, ada yang memandang seseorang tampak kaya raya, tapi sebenarnya Allah telah mulai membatasi rizqinya.

Ada yang bergaji 100 juta rupiah setiap bulannya, tapi tentu rizqinya tak sebanyak itu. Sebab ketika hendak meminum yang segar manis dan mengudap yang kue yang legit, segera dikatakan padanya, “Awas Pak, kadar gulanya!” Ketika hendak menikmati hidangan gurih dengan santan mlekoh dan dedagingan yang lembut, cepat-cepat diingatkan akannya, “Awas Pak, kolesterolnya!” Hatta ketika sup terasa hambar dan garam terlihat begitu menggoda, bergegaslah ada yang menegurnya, “Awas Pak, tekanan darahnya!”

Rasa nikmat itu telah dikurangi.

Lagi-lagi, ini soal rasa. Dan uang yang dia himpunkan dari kerja kerasnya, amat banyak angka nol di belakang bilangan utama, disimpan rapi di Bank yang sangat menjaga rahasia, jika dia mati esok pagi, jadi rizqi siapakah kiranya? Apa yang kita dapat dari kerja tangan kita sendiri dan kita genggam erat hari ini, amat mungkin bukan hak kita. Seperti hartawan yang mati meninggalkan simpanan bertimbun. Mungkin itu mengalir ke ahli warisnya, atau bahkan musuhnya. Allah tak kekurangan cara untuk mengantar apa yang telah ditetapkanNya pada siapa yang dikehendakiNya.

Rizqi sama sekali bukan yang tertulis sebagai angka gaji.

Seorang pemilik jejaring rumah makan dari sebuah kota besar Pulau Jawa, demikian cerita shahibul hikayat yang kami percaya, dengan penghasilan yang besarnya mencengangkan, punya kebiasaan yang sungguh lebih membuat terkesima. Sepanjang hidupnya, tak pernah dia bisa berbaring di kasur, apalagi ranjang berpegas. Dia hanya bisa beristirahat jika menggelar tikar di atas lantai dingin, tepat di depan pintu.

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang sanggup dibeli.

Ada lagi kisah tentang seorang pemilik saham terbesar sebuah maskapai penerbangan yang terhitung raksasa di dunia. Armada pesawat yang dijalankan perusahaannya lebih dari 100 jumlahnya. Tetapi dia menderita hyperphobia, yakni rasa takut terhadap ketinggian. Seumur hidupnya, yang bersangkutan tak pernah berani naik pesawat.

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dikuasai.

Sebaliknya pula, ada seorang lelaki bersahaja yang tidak mampu membeli mobil sepanjang hidupnya. Tapi sungguh Allah telah menetapkan bahwa rizqinya adalah naik mobil ke mana-mana. Maka para tetangga selalu berkata bergiliran padanya, “Mas, tolong hari ini pakai mobil saya untuk kegiatannya ya. Saya senang kalau Mas yang pakai. Sungguh karenanya terasa ada berkah buat kami sekeluarga.” Dan pemilik mobil pergi bekerja ke kantornya dengan mengayuh sepeda. Sebab itulah yang disarankan dokter padanya.

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dimiliki.

***

Dzat Yang Mencipta kita, sekaligus menjamin rizqi bagi penghidupan kita, adalah Pemilik, Pemelihara, dan Pengatur segala urusan kita. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tiada sekutu bagiNya. Maka bagaimana kiranya, jika anugrah dariNya justru kita gunakan untuk mendurhakaiNya? Maka apa jadinya, jika dengan karuniaNya kita malah tenggelam dalam maksiat dan dosa?

“Sesungguhnya seseorang dihalangi dari rizqinya”, demikian Rasulullah bersabda sebagaimana dicatat oleh Imam Ahmad, “Disebabkan dosa yang dilakukannya.”

Ada beberapa keterangan ‘ulama tentang dosa menghalangi rizqi ini, yang selaiknya kita simak. Pertama, bahwa memang yang bersangkutan terhalang dari rizqinya, hingga ke bentuk zhahir rizqi itu. Ini sebagaimana firman Allah tentang dakwah Nuh pada kaumnya.

"Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan di dalamnya sungai-sungai.” (QS Nuh [71]: 10-12)

“Maknanya”, demikian ditulis Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirul Quranil ‘Azhim, “Jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa mentaatiNya, niscaya Dia akan membanyakkan rizqi kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit.”

“Selain itu”, lanjut beliau, “Dia juga akan mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya terdapat bermacam-macam buah untuk kalian, serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu untuk kalian.”

Jika bertaubat menjadikan berlimpahnya bentuk rizqi, maka berdosa berarti membatalkan semua itu. Ini pemahaman pembalikannya.

Keterangan yang kedua, bahwasanya yang dihalangi dari si pendosa adalah rasa nikmat yang dikaruniakan Allah dari berbagai bentuk rizqi tersebut. Rizqi tetap hadir, tapi rasa nikmatnya dicabut. Rizqi tetap turun, tapi rasa lezatnya dihilangkan. “Maka”, demikian menurut Imam An Nawawi, “Karena dosa yang menodai hatinya, hamba tersebut kehilangan kepekaan untuk menikmati rizqinya dan mensyukuri nikmatnya. Dan ini adalah musibah yang sangat besar.”

Hujjah bahwa semua bentuk rizqi itu tetap turun, ada dalam berbagai hadits Rasulillah. Ada yang sudah kita sebut, demikian pula yang berikut ini:

“Sesungguhnya Jibril mengilhamkan ke dalam hatiku”, demikian sabda Rasulullah dalam riwayat Imam Ath Thabrani dan Al Baihaqi, “Bahwa tidak ada satu pun jiwa yang meninggal kecuali telah sempurna rezekinya. maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezeki. Jangan sampai lambatnya rezeki menyeret kalian untuk mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah, karena apa yang ada pada sisi Allah tidak akan bisa diperoleh dengan bermaksiat kepada-Nya.”

“Apa yang ada di sisi Allah”, demikian lanjut Imam An Nawawi, “Adalah ridhaNya yang menjadikan rizqi itu ternikmati di dunia, berkah senantiasa, dan menjadi pahala di akhirat. Maka memang ia tak dapat diraih dengan kemaksiatan dan dosa.”

“Adapun ayat dalam Surah Nuh”, terusnya, “Khithab da’wahnya ditujukan kepada orang kafir, yang meskipun mereka mengingkari Allah dan menyekutukanNya, tapi Allah tidak memutus rizqi mereka secara mutlak. Akan tetapi, jika mereka beristighfar dan bertaubat, sesungguhnya karunia yang lebih besar pastilah Allah limpahkan.”

Menghimpun kedua catatan ini, amat jadi renungan sebuah kisah tentang Imam Hasan Al Bashri. Pada suatu hari, seorang lelaki datang kepada beliau. “Sesungguhnya aku”, ujarnya pada Tabi’in agung dari Bashrah itu, “Melakukan banyak dosa. Tapi ternyata rizqiku tetap lancar-lancar saja. Bahkan lebih banyak dari sebelumnya.”

Sang Imam tersenyum prihatin. Beliau lalu bertanya, “Apakah semalam engkau qiyamullail wahai Saudara?”

“Tidak”, jawabnya heran.

“Sesungguhnya jika Allah langsung menghukum semua makhluq yang berdosa dengan memutus rizqinya”, jelas Hasan Al Bashri, “Niscaya semua manusia di bumi ini sudah habis binasa. Sungguh dunia ini tak berharga di sisi Allah walau sehelai sayap nyamukpun, maka Allah tetap memberikan rizqi bahkan pada orang-orang yang kufur kepadaNya.”

“Adapun kita orang mukmin”, demikian sambung beliau, “Hukuman atas dosa adalah terputusnya kemesraan dengan Allah, Subhanahu wa Ta’ala.”

***

Lagi-lagi terrenungi, bahwa di lapis-lapis keberkahan, ini soal rasa. Semoga Allah melimpahkan rizqiNya kepada kita, dan menjaga kita dari bermaksiat padaNya. Dengan begitu, sempurnalah datangnya nikmat itu dengan kemampuan kita menikmati rasa lezatnya, lembutnya, dan harumnya. Di lapis-lapis keberkahan, soal rasa adalah terjaganya kita dari dosa-dosa.

sepenuh cinta, dinukil dari:
Lapis-Lapis Keberkahan, Setitis Rizqi

*sumber: http://salimafillah.com/rizqi-kita-soal-rasa/

Bada ta'awudz basmalah solawat dan tahmid.

Tafadhol di simak taushiah nikmat penuh hikmat berikut.

Detik ini menjadi saksi atas mujahadah masing2 dari kami untuk tetap berada di sini. Di jalan yang Allah takdirkan kami untuk saling membersamai dalam kerja amal para dai. Menabur benih amal kebaikan untuk kemudian semua insan dapat menuai dan merasakan.

Beginilah jalan ini..
Tak sepenuhnya berada dalam kenikmatan tak sepenuhnya pula berada dalam kepayahan. Karena ada kemudahan di balik kesulitan.
Karena Allah janjikan mutmainah bagi siapa saja yang murni niatnya untuk jihad dalam dakwah.
Karena Allah takkan membiarkan kaki ini berpijak sendiri. Ketika yang lain berguguran allah kuatkan dan kokohkan yang lain untuk menemani.

Beginilah jalan ini mengajarkan kami..
Untuk bersabar dan tegar. Karena, kami sadar ini hanya secuil dari banyaknya hamparan pahala yang mungkin kami abaikan.
Beginilah jalan ini mengajarkan kami..
Untuk menjaga prasangka dalam bingkai ukhuwah jannah. Mencintai karena Allah dengan kekokohan iman. Menasihati dengan tauladan.
Dan mengajak untuk istiqomah pada jalan ini dengan sebaik baiknya kesabaran.
Jalan ini, Jalan dakwah, Jalan menuju Jannah terindah. Semoga kita berkumpul kembali di sana.

Mari perkuat barisan dengan kekokohan iman dan kesungguhan amal

Persahabatan

7 Macam Persahabatan, Hanya 1 Sampai Akhirat.

1. "Ta'aruffan" persahabatan yg terjalin krn pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM & lainnya.

2. "Taariiihan" persahabatan yg terjalin krn faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama & sebagainya.

3. "Ahammiyyatan" persahabatan yg terjalin krn faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.

4. "Faarihan" persahabatan yg terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, berburu, memancing & sebagainya.

5. "Amalan" persahabatan yg terjalin krn seprofesi, misalnya sama2 guru, dokter & sebagainya.

6. "Aduwwan" sahabat tetapi musuh, depan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, "Bila kamu memperoleh nikmat, ia benci, bila kamu tertimpa musibah, ia senang" (QS 3:120).

Rasulullah mengajarkan doa", Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yg bila melihat kebaikanku ia sembunyi tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan."

7. "Hubban Iimaanan", sebuah ikatan persahabat yg lahir batin, tulus saling cinta & sayang krn ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam2 dipenghujung malam, ia doakan sahabatnya. Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya krn Allah Ta'ala.

Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 - 6 akan sirna di Akhirat. yg tersisa hanya ikatan persahabatan yg ke 7, persahabatan yg dilakukan krn Allah (QS 49:10), "Teman2 akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh
bagi yg lain kecuali persahabatan krn Ketaqwaan" (QS 43:67).

ADA  dimanakah persahabatan kita?
Semoga Bermanfaat.

LLK

"Aku tahu,rezekiku tak akan diambil orang,karenanya aku tenang.. aku tahu amalku tak akan dikerjakan orang,karenanya kusibuk berjuang"
(Hasan al Bashri)

"Janganlah kalian merasa bahwa rezeki kalian datang terlambat,krn sesungguhnya tidaklah seorang hamba meninggal hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir yang ditetapkan untuknya. Maka tempuhlah jalan terbaik dalam mencari rezeki yaitu dengan yang halal dan meninggalkan yang haram"
(HR. Ibnu Majah)

Ada seorang pekerja yang gajinya amat banyak angka nol di belakang bilangan utama, disimpan rapi di bank.. namun jika ia meninggal esok hari,jd rezeki siapakah kiranya? --maka,rezeki bukan yang tertulis sbg angka gaji

Ada seorang pemilik jejaring rumah makan terkenal dg penghasilan yang besarnya mencengangkan, namun sepanjang hidupnya tak pernah ia berbaring di kasur,apalagi ranjang pegas. Tidur di alas empuk hanya membuat tulang punggungnya ngilu. dia hanya bisa beristirahat di atas tikar yang digelar di lantai yang dingin.. -- maka,rezeki bukan soal apa yang sanggup dibeli..

Ada seorang pemilik saham terbesar maskapai penerbangan,tp ia menderita phobia ketinggian,maka seumur hidupnya tak pernah ia berani naik pesawat.. --maka,rezeki bukan soal apa yang dikuasai..

Ada pula,seorang lelaki bersahaja tidak mampu membeli mobil,tapi Allah menetapkannya naik mobil kmna2 ketika sang tetangga mempunyai rezeki mobil berlebih dan meminta lelaki ini menggunakan mobilnya drpd menganggur di garasi..--maka,rezeki bukan soal apa yang dimiliki...

Hamba-hamba yang lalai adl yg berjuang keras mencari rezeki yang sudah dijaminkan tetapi mereka mengabaikan taat yang telah diwajibkan..
Inilah setitis rezeki di lapis keberkahan,apa yang sedikit lagi mencukupi,lebih baik daripada yang banyak tapi melalaikan..

★"lapis-lapis keberkahan" - Salim A. fillah★